PERKUAT JEJARING PENGAMPUAN STROKE, PERTEMUAN PROCTORSHIP COILING DIGELAR DI RSUD KABUPATEN BULELENG
Admin rsud | 15 Juli 2026 | 19 kali
SINGARAJA – Dalam upaya mempercepat pemerataan layanan kesehatan spesifik dan darurat di seluruh pelosok negeri, sebuah langkah strategis kembali diwujudkan. Pada hari Rabu, 15 Juli 2026, bertempat di Ruang Dewan Pengawas, telah sukses dilaksanakan pertemuan Proctorship Coiling. Pertemuan ini diselenggarakan secara hibrida guna memperkuat jejaring rumah sakit (RS) pengampu untuk layanan neurointervensi.
Acara penting ini dihadiri oleh pemangku kepentingan utama di bidang kesehatan. Hadir secara luring (tatap muka) di Ruang Dewan Pengawas, antara lain:
- Tim medis dan perwakilan manajemen dari RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah selaku pengampu regional.
- Perwakilan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Sementara itu, tim ahli dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Jakarta selaku pengampu nasional turut hadir dan mengawal jalannya diskusi secara daring (online). Sinergi ini mencerminkan komitmen kuat lintas instansi dalam mendukung pilar transformasi layanan rujukan Kemenkes RI.
Fokus utama dari pertemuan ini adalah optimalisasi program pengampuan (proctorship) untuk tindakan endovascular coiling. Tindakan ini merupakan metode mutakhir tanpa bedah (minimal invasif) yang krusial untuk menyelamatkan pasien dengan kasus aneurisma otak atau stroke sumbatan akut.
Program proctorship ini bertujuan untuk:
- Akselerasi Mandiri: Mempercepat transfer ilmu dari RS rujukan nasional (RSPON) dan regional (RS Prof. Ngoerah) ke RS daerah.
- Standardisasi Layanan: Memastikan kualitas dan prosedur keselamatan pasien (patient safety) tindakan coiling memenuhi standar mutu internasional.
- Pemanfaatan Fasilitas: Memastikan fasilitas canggih seperti gedung Cath Lab yang telah dibangun dapat segera beroperasi optimal dengan dukungan SDM lokal yang kompeten
Selama ini, keterbatasan SDM ahli di daerah membuat pasien stroke akut atau pecah pembuluh darah otak harus dirujuk ke rumah sakit pusat di luar kota. Kondisi ini memakan waktu lama dan berisiko tinggi bagi keselamatan pasien (golden period).
Dengan penguatan jejaring pengampuan melalui pertemuan ini, diharapkan rumah sakit di daerah dapat segera melakukan tindakan coiling secara mandiri. Langkah ini diharapkan mampu memangkas angka kematian dan kecacatan akibat stroke secara signifikan di wilayah sekitar.
Pertemuan ini ditutup dengan penyusunan peta jalan (roadmap) pendampingan kasus riil di lapangan. Seluruh pihak yang hadir berkomitmen penuh untuk mengawal program ini demi memberikan pelayanan kesehatan terbaik yang merata bagi seluruh masyarakat.