SINGARAJA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melaksanakan kunjungan kerja lapangan (field visit) dalam rangka Root Cause Analysis (RCA) atau Analisis Akar Masalah terkait penanganan kasus Tuberkulosis dan HIV (TB-HIV) di RSUD Kabupaten Buleleng, Senin (28/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan kendala komprehensif, mengkaji hambatan klinis maupun manajerial, serta menekan angka kesakitan dan kematian akibat koinfeksi TB-HIV yang masih menjadi tantangan kesehatan di daerah.
Tim Kerja dari Kemenkes RI yang hadir dalam kunjungan tersebut diterima langsung oleh jajaran manajemen RSUD Kabupaten Buleleng, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, serta tim medis layanan terkait. Pertemuan dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke fasilitas pelayanan poli khusus, alur rujukan, serta evaluasi data rekam medis pasien.
Dalam sesi diskusi dan evaluasi RCA, tim Kemenkes menyoroti pentingnya ketepatan data serta kecepatan deteksi dini. Sebagaimana diketahui dalam catatan tren kesehatan daerah, beban kasus TBC dan HIV di Kabupaten Buleleng masih memerlukan perhatian serius. Dalam catatan beberapa tahun terakhir, angka kasus TBC di wilayah ini sempat menyentuh ribuan kasus per tahun dengan angka kematian yang didominasi oleh usia produktif, sementara temuan kasus baru HIV juga terus diantisipasi melalui program penemuan aktif (active case finding).
Kondisi koinfeksi TB-HIV kerap menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga medis di lini depan. Pasien dengan status HIV positif memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi oportunistik seperti tuberkulosis, yang apabila terlambat didiagnosis atau mengalami putus obat (lost to follow-up), dapat berisiko tinggi terhadap fatalitas atau kematian.
Melalui metode Root Cause Analysis (RCA), Tim Kemenkes bersama manajemen RSUD Buleleng mengidentifikasi sejumlah akar masalah yang menghambat optimalisasi layanan. Permasalahan utama yang ditemukan mencakup aspek kepatuhan pengobatan pasien, di mana tantangan durasi pengobatan TBC yang panjang kerap memicu kejenuhan, terutama bagi Orang Dengan HIV (ODHIV), sehingga memerlukan pendampingan pengawas menelan obat yang lebih masif. Selain itu, aspek integrasi layanan TB-HIV memerlukan penguatan sinkronisasi agar tes HIV bagi pasien TBC dan skrining TBC pada pasien ODHIV dapat dilakukan secara serentak serta terpadu. Kendala lain yang turut dibahas adalah pentingnya optimalisasi pelacakan kontak erat guna memutus rantai penularan di masyarakat dan mencegah keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.
Pihak Kemenkes mengapresiasi komitmen RSUD Kabupaten Buleleng yang terus berupaya meningkatkan kualitas layanan meskipun dihadapkan pada kompleksitas kasus di lapangan. Melalui rekomendasi hasil RCA ini, diharapkan ada percepatan perbaikan alur pelayanan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta penguatan sinergi antara rumah sakit, puskesmas, dan Dinas Kesehatan dalam menekan angka kematian akibat TB-HIV di Kabupaten Buleleng secara signifikan.