Anafilaksis, Ketika Alergi Kacang Bisa Mematikan

  • Admin Rsud
  • 02 Oktober 2019
  • Dibaca: 62 Pengunjung

Ketika kita menyusuri etalase di supermarket dan berhenti pada bagian makanan ringan, ada banyak produk yang di labelnya diberi peringatan: “may contain traces of nuts” atau “mengandung kacang”. Rupanya, anafilaksis atau reaksi alergi berat akibat kacang tidak bisa disepelekan.

Sebelum membahas lebih jauh tentang alergi kacang, kita ulas sedikit tentang anafilaksis. Ini merupakan reaksi alergi berat yang harus segera ditangani. Bagi penderitanya, setiap detik amatlah berharga. 

Anafilaksis jarang terjadi. Kabar baiknya, seseorang yang pernah mengalami anafilaksis tetap bisa sembuh. Namun, risiko untuk mengalami kembali reaksi alergi hebat ini tetap ada.

Berikutnya, mari membedah hubungan antara alergi kacang dan anafilaksis.

Alergi kacang, alergi paling umum

Rupanya, alergi kacang adalah jenis alergi yang paling umum terjadi dan banyak ditemukan pada anak-anak. Tidak sedikit sekolah di Amerika Serikat yang menetapkan sekolah mereka sebagai “nut-free” karena reaksi alerginya dapat mengancam nyawa anak-anak.

Pada tahun 2010 saja, kasus alergi kacang pada anak di Amerika telah meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 1997-2008.

Meski demikian, National Institutes of Health telah melakukan penelitian dengan kabar menggembirakan. Setidaknya 20% individu yang alergi kacang akan berhasil mengatasinya suatu hari nanti.

Gejala alergi kacang

Untuk menyamakan persepsi, kacang yang dimaksud dalam bahasan SehatQ kali ini adalah kacang dari spesies tanaman legume. Jenisnya banyak termasuk lentil, kacang kedelai, dan biji-bijian lainnya yang dipanen dalam polong.

Seseorang perlu mengetahui apa gejala alergi kacang, terutama ketika muncul reaksi tidak nyaman di tubuh mereka usai mengonsumsi kacang.

Beberapa gejala alergi kacang di antaranya:

  • Rasa gatal di sekitar mulut dan tenggorokan
  • Kulit kemerahan dan gatal di kulit
  • Mual
  • Hidung berair
  • Anafilaksis

Khusus pada gejala yang paling parah yaitu anafilaksis, penderitanya akan merasa sulit bernapas, tenggorokan membengkak, tekanan darah turun drastis, sakit kepala, hingga pingsan.

Selain itu, kulit penderitanya akan menjadi sangat pucat hingga bibirnya membiru. Penanganan harus dilakukan sesegera mungkin.

Teliti sebelum konsumsi

Mendiagnosis alergi kacang pada seseorang tidak bisa mengggunakan tes darah. Belum lagi reaksi alergi kacang seseorang bisa berbeda antara satu dan yang lain. Selain itu, seberapa banyak porsi kacang yang bisa memicu alergi juga perlu diteliti lebih jauh.

Hal ini pula yang menjadi salah satu konsiderasi ditetapkannya regulasi tentang Food Allergen Labelling and Consumer Protection Act tahun 2004 silam. Kacang menjadi salah satu dari delapan alergen yang harus dicantumkan pada label produk.

Untuk menghindari risiko terjadinya anafilaksis, seseorang yang alergi kacang harus benar-benar teliti sebelum mengonsumsi apapun. Kacang bisa saja ditemukan pada makanan lain seperti sereal, permen, atau produk kue lainnya.

Ketika makan di restoran, jangan ragu untuk bertanya apakah kacang termasuk dalam bahan baku pembuatan menu tertentu. 

Khusus anak-anak, orangtua perlu tahu seberapa parah alergi kacang yang diderita buah hati mereka. Konsultasikan pada pakarnya dan beri pengawasan ketat terhadap apa yang mereka konsumsi.

Share Post :